Rabu, 20 Mei 2009
PEMBELAJARAN MORFOFONEMIK DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK INKUIRI PADA SISWA KELAS 2 SMU BAYAH TAHUN PELAJARAN 2005/2006
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dewasa ini belum menampakkan hasil yang memuaskan. Hal ini terbukti dari seringnya terungkap dalam berbagai media cetak tentang rendahnya mutu pengajaran bahasa Indonesia.
Kegagalan dan keberhasilan pengajaran di sekolah-sekolah tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu faktomya adalah faktor tujuan. Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia harus diarahkan pada aspek-aspek keterampilan berbahasa. Aspek-aspek keterampilan berbahasa tersebut meliputi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis.
Berbicara mengenai aspek-aspek keterampilan berbahasa, maka pembicaraan tersebut tidak lepas dari tujuan pengajaran bahasa secara umum. Oleh karena itu, tujuan pengajaran bahasa Indonesia tidak semata-mata mengajarkan siswa agar menguasai ilmu bahasa, akan tetapi harus diajarkan bagaimana seorang siswa terampil berbahasa. Dengan demikian, berbahasa berarti belajar kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia lisan maupun tulisan (Tarigan, 1995:32).
Berdasarkan hasil pengarnatan penulis, ada beberapa hal yang diamanatkan dalam kuriikulum, yakni perbandingan bobot pembelajaran bahasa dan sastra sebaiknya seimbang dan dapat disajikan secara terpadu, misalnya wacana sastra dapat sekaligus dipakai sebagai bahan pembelajaran bahasa (Depdikbud, 1994:3). Hal itu membuktikan bahwa pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bukanlah suatu pembelajaran yang harus diajarkan terpisah-pisah, tetapi suatu pembelajaran yang terpadu.
Seorang guru bahasa Indonesia mempunyai tanggung jawab ganda, yaitu membina kemampuan menyampaikan dan menerima pesan baik lisan maupun tulisan. Sementara itu, bentuk aktivitas lain yang terlihat dalam proses belajar, akhimya akan terkait dengan mengembangkan kemampuan menulis. Hal itu sesuai dengan pendapat Rahmanto (1988:111) yang menyatakan, bahwa dalam proses belajar bahasa dan sastra, akhimya terkait juga dengan mengembangkan kemampuan menulis ekspresif dan kreatif
Tulisan yang baik menuntut suatu penyajian pokok persoalan yang jelas, pengungkapan ide-ide secara teratur, dan pola pembentukan kata sebagai dasar menyusun kalimat yang baik. Tulisan tersebut akan baik jika pemahaman terhadap morfofonemiknya baik. Dengan demikian, untuk latihan menulis, hendaknya memahaini pola pembentukan kata terlebih dahulu melalul morfofonemik.
Morfofonemik merupakan proses berubahnya fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal atau fonem yang mendahuluinya. Perubahan fonem itu sesuai dengan fonem bentuk dasar yang dilekatinya dan perubahan morfofonemik memegang peranan penting dalam proses pembentukan kalimat yang baik, terutama dalam pembentukan kata tulis.
Telaah morfofonemik dalam sebuah wacana dimaksudkan untuk mengetahul apakah proses pembentukan kata yang dibuat para siswa sudah sesuai dengan ketentuan atau belum. Oleh karena itu, telaah ini memiliki peranan penting dalam rangka meningkatkan keterampilan berbahasa, sehingga dengan kemampuan dan pengalaman yang kita miliki, kita dapat menganalisis pola bentukan kata yang dibuat para siswa dan dapat memberikan kontribusi dalam pembelajaran struktur.
Hal yang perlu dipertegas dalam telaah morfofonemik pada karangan siswa, yakni untuk menemukan pola bentukan kata, kontruksi kalimat, dan struktur bahasanya. Dengan demikian, penelitian ini cukup representatif jika dianalisis mengingat penelitian ini mengutamakan kecermatan siswa dalam menentukan kata dan pola pembentukan kata yang dipakai. Sekaitan dengan itu penulis mengajukan judul: Pembelajaran Morfofonemik dengan Menggunakan Teknik Inkuiri pada Siswa Kelas 2 SMU Bayah Tahun Pelajaran 2005/2006.
1.2 Perumusan dan Pembatasan Masalah
1.2.1 Perumusan Masalah
Untuk mencapai tujuan penelitian yang tepat dan terarah, maka penulis membuat rumusan penelitian ini sebagai berikut:
1) Mampukah penulis mengajarkan morfofonemik dengan menggunakan teknik inkuiri pada karangan siswa Kelas 2 SMU 1 Bayah?
2) Berhasilkah siswa Kelas 2 SMU 1 Bayah belajar morfofonemik melalui teknik inkuiri ?
3) Tepatkah teknik inkuiri digunakan dalam mengajarkan morf'ofonemik pada karangan siswa kelas 2 SMU 1 Bayah?
1.2.2 Pembatasan Masalah
Berdasarkan uraian masalah di atas, ruang lingkup permasalahan penelitian dibatasi pada hal-hal berikut:
1) Pembelajaran morfofonemik didasarkan pada hasil penernuan pola pernbentukan kata melalui teks yang telah disediakan sebelumnya.
2) Morfofonemik yang diteliti terbatas pada prefiks.
3) Metode yang dipakai adalah metode penugasan dengan teknik inkuiri.
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
13.1 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian berkaitan dengan rumusan masalah, yakni mengungkapkan secara jelas permasalahan yang diteliti. Secara lengkap penelitian ini bertujuan untuk:
1) mengetahui kemampuan penulis mengajarkan morfofonemik dengan menggunakan tekiilk inkuiri pada karangan siswa Kelas 2 SMU 1Bayah
2) mengetahui keberhasilan siswa Kelas 2 SMU 1 Bayah dalam Belajar morfofonemik melalui teknik inkuin;
3) ingin mengetahui ketepatan teknik inkuiri digunakan dalam mengajarkan morfofonemik pada karangan siswa kelas 2 SMU1 Bayah.
1.3.2 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengajaran bahasa Indonesia umumnya, khususnya dapat meningkatkan pengajaran Sastra Indonesia.
Secara khusus manfaat yang ingin didapatkan dari penelitian ini sebagai berikut:
1) Bagi peneliti, hasil penelitian ini memberikan pengalaman yang berharga tentang pembelajaran morfofonemik dalam karangan dengan menggunakan teknik inkuiri.
2) Bagi guru, hasil penelitian ini dijadikan salah satu alternatif bahan pembelajaran pembentukan kata morfofonemik yang diterapkan dalam karangan.
1.4 Anggapan Dasar dan Hipotesis
1.4.1 Anggapan Dasar
Pada hakikatnya, anggapan dasar atau postulat merupakan sebuah titik tolak pemikiran yang tingkat akseptabilitasnya tidak diragukan oleh peneliti (Anikunto 1992:55). Pada penelitian ini tercakup beberapa anggapan dasar yang digunakan sebagai berikut:
1) Penulis telah menyelesaikan mata kuliah MKDK dan mata kuliah keahlian selama delapan semester, sehingga diduga mampu melaksanakan pernbelajaran.
2) Pembelajaran morfofonemik merupakan materi yang tercantum dalarn GBPP bahasa Indonesia SMU berdasarkan Kurikulum 1994.
3) Teknik inkuiri dapat meningkatkan kegiatan belajar siswa, sehingga siswa aktif, tekun, giat dan mandiri dalam belajar.
1.4.2 Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian. Yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:
1) Penulis mampu mengajarkan morfofonemik dengan menggunakan teknik inkuiri pada karangan siswa Kelas 2 SMU 1 Bayah.
2) Siswa Kelas 2 SMU 1 Bayah berhasil dengan baik belajar morfofonemik melalui teknik inkuiri.
3) Teknik inkuiri dapat digunakan dalam mengajarkan morfofonemik pada karangan siswa Kelas 2 SMU 1 Bayah.
1.5 Metode dan Teknik Penelitian
1.5.1 Metode Penelitian
Metode yang terbaik untuk meneliti suatu hal ialah metode yang dapat memberikan hasil yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Metode yang penulis pergunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik.
Metode deskriptif analitik adalah metode yang digunakan untuk mengumpulkan data analitik dan menganalisa data hasil pembelajaran morfofonemik dengan menggunakan teknik inkuiri yang memusatkan pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang. Data yang terkumpul disusun, kemudian dijelaskan dan disimpulkan (Surakhmad, 1982:140).
1.5.2 Teknik Penelitian
Untuk memperoleh data, penulis menggunakan beberapa teknik penelitian sebagai berikut:
1) Studi Kepustakaan
Teknik ini penulis gunakan untuk melengkapi pengetahuan dengan membaca dan menelaah buku-buku yang berkaitan dengan masalah-masalah yang diteliti.
2) Observassi
Teknik observasi penulis gunakan dengan cara mengadakan pengamalan tentang keadaan sekolah yang akan digunakan sebagai tempat penelitian.
3) Teknik Uji Coba
Uji coba merupakan kegiatan penulis dalam mengajarkan morfofonemik dengan menggunakan teknik inkuiri pada karangan siswa.
4) Teknik Tes
Teknik ini digunakan untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam kegiatan belajar mengejar pembelajaran morfofonemik.
5) Teknik Analisis
Teknik ini digunakan untuk melakukan analisis data yang diperoleh dari hasil penelitian.
1.6 Populasi dan Sampel
1.6.1 Populasi
Populasi adalah sejumlah individu atau subyek yang terdapat di dalam kelompok tertentu yang dapat dijadikan sebagai sumber data. Adapun sebagian yang diambil dari populasi adalah sampel (Surakhmad, 1980: 93.).
Populasi yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah kernampuan penulis dalam mengajarkan struktur kata dengan menggunakan teknik inkuiri pada siswa Kelas 2 SMU 1 Bayah.
Adapun yang dijadikan penelitian, yaitu populasi siswa kelas 2 berikut ini
No
Kelas
Jumlah siswa
Keterangan
1.
2.
3.
4.
5.
Jumlah
1.6.2 Sampel
Bisnis online for dummies
Bahkan pemula pun bisa dapat jutaan rupiah dari bi Cara Halal Mencari Uang di internet
Panduan Bisnis Online bagi pemula, menghasilkan ua
RAHASIA TERHEBAT BISNIS INTERNET
Miliki PANDUAN serta BIMBINGAN secra PRAKTIS DAN M Internet = Ladang Uang ?
Kini saatnya untuk menjadikan Internet sebagai lad
BISNIS GRATIS HASIL FANTASTIS
join di Bisnis Pulsagramku.co.cc bonus 3 Juta/Bln. Gabung menjadi anggota koperasi online
Potensi income hingga jutaan rupiah / bulan.
Pasang Iklan 100rb, Dapat DUIT 2 MILYAR per Tahun!
Konsep baru, beriklan dan berinvestasi sekaligus.. Rp130rb Utk KEUNTUNGAN ANDA 1000%
Rp130rb Utk KEUNTUNGAN ANDA 1000%. DIJAMIN!
SmArt ASSET di INTERNET..!
Uang Mengalir Ke Rekening. Aset Anda Bekerja 24Jam Rahasia Uang Mengalir Otomatis
Cara Tercepat Menghasilkan Uang!!!
Formula Trik Gandakan UANG
Gandakan Uang anda hingga 10kali lipat!!! MESIN UANG OTOMATIS BAGI PEMULA
Praktis, Beroperasi 24 jam, TERBUKTI & TERUJI.
KumpulBlogger.com
Bertitik tolak dari populasi di atas, penulis menetapkan sampel untuk penelitian ini adalah kemampuan penulis dalam mengajarkan morfofonemik dengan menggunakan teknik inkuiri pada siswa Kelas II.1 SMU 1 Bayah yang berumlah 40 orang.
Sampel siswa ditentukan dengan teknik random undi bagi kelas II.1 sampai 11.5. Penulis memilih satu kelas yang akan dijadikan sampel penelitian.
1.7 Definisi Operasional
Secara operasional, istilah-istilah yang terdapat dalam judul penelitian ini dapat didefinisikan sebagai berikut:
1) Uji coba adalah pengujian sesuatu sebelum dipakai atau dilaksanakan untuk mengetahui kwalitas sesuatu.
2) Pembelajaran morfofonenik adalah suatu kegiatan belajar mengajar dalam rangka interaksi antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan berupa proses berubahnya fonem menjadi fonern lain sesuai dengan fonem awal atau fonem yang mendahuluinya proses berubahnya fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal atau fonem yang mendahuluinya.
3) Teknik inkuiri adalah cara belajar yang lebih menekankan kegiatan yang berpusat kepada siswa sebagai subjek belajar untuk menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari.
Berdasarkan definisi istilah di atas, maka judul penelitian ini mengandung pengertian suatu pengujian sesuatu sebelum dipakai atau dilaksanakan untuk mengetahui kwalitas belajar mengajar dalarn rangka interaksi antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan berupa proses berubahnya fonern menjadi fonern lain sesuai dengan fonern awal atau fonern yang mendahuluinya proses berubahnya fonern menjadi fonem lain sesuai dengan fonern awal atau fonern yang mendahuluinya melalui cara belajar yang lebih menekankan kegiatan yang berpusat kepada siswa sebagai subjek belajar.
Akankah Bahasa Ibu semakin punah?
Oleh : Achmad Hidir,
Asal-Mula Munculnya Bahasa.
Asal mula munculnya bahasa dalam kehidupan manusia, sulitlah ditebak kapan waktunya dan bilamana hal itu muncul ?. Sampai saat ini masih teka-teki. Namun para ahli antropologi memiliki keyakinan munculnya bahasa sebagai lambang bunyi yang memiliki arti adalah ketika nenek moyang manusia harus meninggalkan pohon-pohonan dalam hutan ke alam terbuka di savana padang rumput. Dalam lingkungan yang baru ini nenek moyang manusia menghadapi bahaya yang lebih banyak, yang menuntut daya penyesuaian yang lebih dari mereka demi kelangsungan hidupnya.
Konon ketika itu, kawanan kera yang berdiri tegak (pithe-chantropus erectus) itu sudah mulai hidup di tanah dan berkelompok sehingga memunculkan pembagian kerja di antara mereka. Selanjutnya diyakini oleh para antropolog, munculnya bahasa itu seiring dengan mulai beralihnya fungsi rahang dan taring ke arah semakin berfungsinya tangan untuk bekerja, selain itu berfungsinya tangan untuk bekerja mempengaruhi kemampuan otak (cerebrum dan neocortex) yang semakin membesar yang mampu merekam berbagai memori.
Kemampuan merekam memori ini, karena kera yang berdiri tegak itu memiliki keuntungan anatomis yang tidak terdapat pada kera-kera lainnya. Keuntungan yang paling berhubungan langsung dengan kemampuan berbahasa di kemudian hari adalah bentuk rahang yang memungkinkan gerak bibir lebih leluasa, sehingga dengan mulut mereka dapat menimbulkan bunyi yang banyak variasinya. Demikian juga dengan kemampuannya untuk berdiri tegak dengan kaki, telah memungkinkan mereka untuk dapat melihat lebih jauh sehingga mereka dapat menangkap gejala-gejala bahaya dari suatu jarak tertentu.
Selanjutnya kata-kata lisan pertama barangkali bertalian erat dengan suara-suara yang ke luar dari mulut mereka sebagai respon bila mereka melihat bahaya. Melalui peniruan yang mungkin mula-mula tak sengaja, tapi kemudian terus dikembangkan maka kemudian suara-suara itu mulai mengandung arti dan dipakai sebagai isyarat umum.
Proses perkembangan dalam menjadikan suara tertentu sebagai simbol untuk benda-benda tertentu berjalan lambat. Namun sampai taraf tertentu kemudian perkembangannya mengalami percepatan yang luar biasa. Sama halnya dengan yang dialami oleh seorang anak kecil ketika belajar bicara, ketika ia menyadari bahwa segala sesuatunya itu mempunyai nama dan dapat diberi nama, maka kemampuan bahasanya akan meningkat dengan cepat.
Kemampuan berbahasa ini selanjutnya amat memperbesar kemampuan kualitatif otak manusia purba. Secara genetis perkembangan ini tercermin dalam pertumbuhan neo-cortex (otak depan), yang menyebabkan ukuran otak menjadi lebih besar pada manusia-manusia yang lebih maju kemudian Kemampuan berbahasa ini mencerminkan pula kemajuan akan kemampuan manusia untuk mengembangkan budayanya, seni, teknologi, dan lebih daripada itu adalah sosialisasi.
Dari sini kemudian kemajuan tehnologi dan kebudayaan semakin berkembang pesat sehingga meninggalkan taraf kemajuan mahluk lain yang ada. Sebagai dampak adanya satu kemampuan manusia akibat perkembangan bahasa yang ia miliki.
2. Variasi Bahasa dan Bahasa Ibu
Proses persebaran bahasa sangat dipengaruhi dengan proses persebaran ras. Hal ini karena persebaran ras telah menyebabkan perbedaan bahasa karena adanya proses disvergensi yang dipengaruhi oleh alam lingkungan dan isolasi geografis.
Bahwa kemudian manusia menggunakan bunyi-bunyi tertentu dan disusun dengan cara tertentu pula adalah secara kebetulan saja dan semuanya bersifat suka-suka (arbitrer). Dengan demikian maka terjadinyalah perbedaan antara bahasa satu dengan bahasa lainnya. Sebagai misal, bulan adalah bulan dan dari dulu bulan itu hanya ada satu di angkasa, tetapi kenapa kemudian manusia memberikan nama yang berbeda-beda untuk benda yang bernama “ bulan “. Sebagai contoh; orang Indonesia menyebutnya Bulan, orang Jawa menyebutnya Wulan, Orang Jepang menyebutnya Tsuki, orang Perancis La lune, orang Inggris The Moon, Orang Jerman Monat dan lain sebagainya. Pada hal obyeknya sama, yaitu sebuah benda planet.
Proses arbitrer dan disvergensi inilah yang lambat laun memberikan andil variasi bahasa dan pembentukan bahasa daerah (suku atau bangsa) di kemudian hari.
Indonesia tercatat sebagai negara kedua yang paling banyak memiliki bahasa ibu setelah Papua New Guinea. Secara total jumlah bahasa ibu di Indonesia ada 706 sedangkan untuk Papua New Guinea sejumlah 867 bahasa ibu. Dari 706 rumpun bahasa ibu yang ada di Indonesia separuhnya berada di Papua (Kompas, 13 Februari 2003). Hal ini wajar sebagaimana diungkap oleh A.F. Tucker (1987) bahwa di pedalaman Irian (Papua) memang banyak sekali variasi subsukunya. Sebagai contoh; untuk orang Sentani saja sukunya terbagi dalam tiga dialek bahasa, yaitu; bahasa Sentani barat, timur dan tengah. Orang Sentani Timur sering juga dikenal dengan orang Hedam. Demikian juga untuk orang Dani, terbagi dalam berbagai subsuku, ada Dani Baliem, Yamo, Toli, dan Sipak yang kesemuanya itu ternyata memiliki variasi bahasa.
3. Kearah Kepunahan Bahasa Ibu.
Diyakini bahwa untuk bahasa-bahasa ibu beberapa tahun ke depan akan semakin punah dan hilang. Menurut data UNESCO setiap tahun ada sepuluh bahasa daerah yang punah. Pada akhir abad 21 ini diperkirakan laju kepunahan akan lebih cepat lagi. Menurut laporan Kompas 13 Februari 2003, diantara 6.000 bahasa yang ada di dunia, hanya akan ada 600-3000 bahasa saja lagi yang ada menjelang akhir abad 21 ini. Dari 6000 bahasa daerah itu, sekitar separuhnya adalah bahasa yang dengan jumlah penuturnya tidak sampai 10.000 orang. Pada hal salah satu syarat lestarinya bahasa adalah jika jumlah penuturnya mencapai 100.000 orang.
Bukti-bukti akan adanya kepunahan bahasa ibu di Indonesia adalah dari jumlah 109 bahasa daerah yang ada, ternyata jumlah penuturnya sudah kurang dari 100.000 orang, misalnya bahasa Tondano (Sulawesi), Ogan (Sumsel), dan Buru (Maluku). Bahkan menurut laporan Kompas November 2002 lalu, melaporkan bahwa untuk jumlah penutur bahasa sunda di Bandung (bukan di Jawa Baratnya) jumlah penutur bahasa sunda menurun jumlahnya. Karena imbas urbanisasi dan banyaknya migrasi masuk multi etnik dan kontak dengan budaya lain. Selain juga ada kecenderungan baru di mana untuk kelas menengah baru sudah enggan menggunakan bahasa daerah yang terkesan kuno.
Bagaimana dengan di Riau ?. Menurut UU Hamidy (1991) jumlah masyarakat terasing di Riau cukup banyak variasinya. Dan masih menurutnya bahwa untuk kasus masyarakat terasing di Indonesia cukup sulit untuk ditaksir, namun jika diperkirakan tahun 1987 ditaksir 1,2 juta jiwa dan setiap keluarga ditaksir ada 4 jiwa, maka diperkirakan jumlah mereka 240.000 KK. Kemudian lagi bila diperkirakan pertumbuhannya 1 % saja pertahun maka dalam tahun 1991 ditaksir akan berjumlah 1,5 juta jiwa (300.000 KK). Lalu bagaimana untuk keadaan tahun 2003 ?. Sejauh ini memang penulis belum memperoleh data untuk itu (mungkin saja datanya sudah ada).
Namun bila mengacu pada teori antropologi, di mana dinyatakan bahwa dalam masyarakat yang cenderung nomad (selain juga karena kemiskinannya) seringkali pertumbuhannya menjadi terhambat dan kadangkala terbawa oleh genetical drift yang kurang menguntungkan sehingga lambat laun populasinya semakin mengecil untuk kemudian akhirnya punah. Contoh untuk kasus itu sudah ada, sebut saja misalnya; orang Ainu di Jepang, Aborigin di Australia atau orang Indian di Amerika yang hampir mendekati kepunahan.
Oleh sebab itu di Indonesia, momentum peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional yang dicanangkan tanggal 21 Februari setiap tahunnya, untuk pertama kalinya turut diperingati berupa pertemuan nasional tanggal 19 Februari 2003 di Jakarta. Momen ini dianggap penting karena para ahli bahasa tampaknya sepakat bahwa bahasa daerah harus dilestarikan secara seimbang dengan bahasa nasional. Karena keberadaan bahasa daerah merupakan ciri jati diri bangsa dan suku yang ada di Indonesia. Selain muatan lokal dalam mata pelajaran yang perlu dikembangkan juga, perlu peran serta keluarga dalam mensosialisasikan pengenalan bahasa ibu dalam usia dini terhadap anak-anaknya.
Diyakini pembekalan dua bahasa (bilingual) atau lebih (multilingual) terhadap anak sejak dini merupakan langkah strategis untuk membentuk pribadi yang toleran dan santun, selain menyelamatkan bahasa daerah dari ancaman kepunahan.
ANALISIS PEMBENTUKAN KATA DALAM RUJUKAN NAMA DIRI MAHASISWA SASTRA INDONESIA UNSOED ANGKATAN 2005 Bayu Murdiyanto G1B005021
A. Pengantar
Nama merupakan cerminan diri. Begitulah yang biasa dikatakan orang tua ketika memberikan nama kepada anaknya. Diharapkan dengan nama yang memiliki arti baik dapat mencerminkan sifat sang anak kelak. Tapi pada dasarnya nama diri seseorang hanya merupakan identitas saja, tidak seperti yang dikatakan di atas. Belum tentu seseorang akan memiliki sifat yang baik ketika mendapat nama yang baik saat ia dilahirkan dan diberikan nama oleh orang tuanya.
Dengan demikian penulis ingin mencoba untuk mengkaji lebih jauh lagi mengenai analisis referen nama diri ini dalam pembentukan kata dengan alasan mencoba mengungkap bahwa nama diri dapat muncul dari peristiwa kebahasaan juga.
Penelitian ini menggunakan konsep kajian cabang ilmu linguistik yaitu, Morfologi dengan mengambil teori pembentukan kata. Sebuah teori yang membahas mengenai pembentukan sebuah kata dengan menggunakan tiga teori, yakni (1) afiksasi atau pengimbuhan; (2) reduplikasi atau pengulangan; (3) komposisi atau pemajemukan.
B. Penelitian sebelumnya
Penelitian sebelumnya yang membahas nama diri memang banyak, namun penulis mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Ridha Mashudi Wibowo dengan judul Nama Diri Etnik Jawa.
Dewasa ini bahan bacaan tentang daftar nama diri cukup banyak tersedia . Namun demikian masih sedikit dilakukan upaya ke arah deskripsi nama diri sebagai bagian dari struktur gramatikal bahasa. Beberapa masalah linguistik umum tertentu, seperti sifat semantis nama diri dan kedudukan nama diri terhadap nomina biasa, telah banyak menarik perhatian para ahli linguistik dan juga filsafat (Uhlenbeck, 1982:370). Akan tetapi, dasar empiris bagi pembahasan teoretis tentang masalah ini masih agak sempit dan kurang mantap. Bagi kebanyakan linguis kajian nama diri merupakan bidang penelitian yang tipis dan kurang memberikan harapan sehingga dengan perasaan lega diserahkan kepada ilmu onomastika
Dalam pada itu, yang dimaksud dengan nama diri ialah kata yang dipakai untuk menyebut diri seseorang (Ali dalam Riyadi, 1999:80; conf. Kridalaksana, 1993: 144). Dengan kata lain, nama dapat diartikan sebagai kata yang berfungsi sebagai sebutan untuk menunjukkan orang atau sebagai penanda identitas seseorang. Dipandang dari sudut ilmu bahasa, nama diri merupakan satuan lingual yang dapat disebut sebagai tanda. Tanda merupakan kombinasi dari konsep (petanda) dan bentuk (yang tertulis atau diucapkan) atau penanda (Saussure, 1988:147). Tanda-tanda itu – yang antara lain berupa tanda konvensional yang disebut simbol – memegang peran penting dalam komunikasi (Sudjiman dan Zoest, 1996b:9). Dengan demikian, nama diri selain berfungsi sebagai penanda identitas, juga dapat merupakan simbol, misalnya Teguh ‘teguh/kokoh’ selain merupakan penanda identitas seorang laki-laki, juga merupakan simbol kekuatan. Di samping itu, Palupi ‘teladan’ selain merupakan penanda identitas seorang wanita, juga merupakan simbol keteladanan. Dalam hal ini, mengikuti Uhlenbeck (1982:373-382), nama diri yang semata-mata hanya berfungsi sebagai penanda identitas identik dengan nama diri yang tidak bermotivasi sedangkan nama diri yang berfungsi sebagai simbol identik dengan nama diri yang bermotivasi. Lain daripada itu, Budiwati (2000) menyinggung ihwal kaitan antara nama diri dan acuan/referennya. Secara semantis nama diri dapat berkaitan dengan variable reference (referensi variatif) maupun constant reference (referensi tetap). Artinya, dalam lingkup kalimat semakin pendek nama diri seseorang ditampilkan semakin ia memiliki kecenderungan mempunyai referensi yang bersifat variatif, sedangkan semakin panjang nama seseorang ditampilkan dalam kalimat semakin ia memiliki kecenderungan mempunyai referensi yang bersifat tetap . Berkaitan dengan hal itu, Ryle (dalam Wasiyati, 2000:8) menyatakan bahwa nama memiliki referen tetapi tidak memiliki makna. Arti simbolik nama dan kata lain dibangun oleh konvensi yang khusus untuk budaya tertentu. Ditegaskannya pula bahwa kamus tidak mengungkapkan arti nama-nama dengan alasan sederhana, yakni karena nama tak berarti apa-apa.
C. Analisis Nama Arbitrer
Pada kasus ini akan ada pengelompokan nama dengan pembentukan arbiter. Nama seseorang bisa dikelompokan dalam bentuk arbiter apabila struktur pemaknaannya kurang jelas atau dengan faktor lain, karena memang banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Dalam bentuk penamaan jawa akan banyak sekali kita temukan penamaan yang digolongkan dalam bentuk arbitrer. Misalkan, nama seorang peranakan jawa dapat diindikasikan arbitrer apabila diakhiri dengan akhiran –em atau –en dengan memenuhi formulasi vokal a-i-e, misalnya Barikem, Saliyem, Daminten, Jaminten (Wibowo, 2001:49). Dalam bentuk akhiran -an dan –in dapat kita temui, misalnya tajiman, sajidin, baridin, paiman, wakiman dengan formulasi a-i-a. Nama-nama ini secara kuantitatif banyak kita temui, namun nama berfomulasi e-i-i akan sangat jarang kita jumpai, semisal, Jemidin, Sekimin.
D. Analisis Nama Nonarbitrer
Bentuk nama-nama ini dikelompokan ke dalam bentuk nonarbitrer dimungkinkan karena berasal dari suatu leksikon tertentu, baik dalam satu silabel atau kata maupun lebih. Bentuk yang mungkin bisa dianalisis adalah apabila memiliki runtutan, misalkan Ardiman atau Ardinem. Keduanya berdasarkan dari kata asal yang sama yaitu ardi yang berarti gunung hanya saja memiliki pemarkah yang berbeda, -man untuk laki dan –nem untuk wanita.atau dalam kasus lain terjadi dalam leksikon yang sama namun merubah fonem terkhir sebagai penanda markah tertentu tanpa memberikan tambahan imbuhan, misalkan Yatno atau Yatni. Yatno berasal dari kata Yatna (jawa Kuno) yang berarti waspada dengan markah /o/ untuk laki-laki dan /i/ untuk wanita Dalam nama nonarbitrer kita juga dapat menemukan runtutan bunyi, misalkan Tri Januri Ariri, Sujiwo Tejo, Harjo Sugianto. Ketiganya memiliki runtutan bunyi pada ujung morfemnya. Tri yang berarti tiga, Januri (diambil dari bahasa sansekreta) yang berarti bulan Januari, Ariri yang berarti hari ke tiga; nama ini memiliki formulasi i-i-i. Sujiwo yang berarti satu jiwa, tejo berasal dari teja (bahasa Jawa Kawi) yang berarti cahaya; nama ini memiliki formulasi o-o. Harjo yang berasal dari kata harja (bahasa Jawa Kawi) yang berarti selamat, Sugianto yang berasal dari kata sugih atau kaya dan anta atau ananta yang berarti tanpa batas (bahasa Jawa Kawi); nama ini memiliki formulasi o-o.
E. Penutup
Secara umum Chaer, (1995:43-52) menyatakan bahwa penamaan merupakan proses perlambangan suatu konsep untuk mengacu pada suatu referen yang berada di luar bahasa. Nama diri pada hakikatnya tidak memiliki makna ketika bentukan kata yang terjadi sudah menjadi hasil. Dengan kata lain yang memiliki makna adalah referen atau rujukannya bukan nama diri itu sendiri. Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Ryle (dalam Wasiyati, 2000:8) yang menyatakan bahwa nama memiliki referen tetapi tidak memiliki makna.
Pembahasan makalah ini akan menggunakan dua tahapan komponen, pertama, dilihat melalui pemenggalan perkata dan kedua melalui susunan per morfem atau susunan gramatikalnya untuk menemukan pembentukan kata dalam nama tersebut. makalah kajian nama sendiri merupakan kajian yang sudah sering dibahas dalam penelitian - penelitian lain sehingga akan banyak sekali jenis kajiannya dipandang dari berbagai sisi.
Cukup banyaknya penelitian mengenai makna ini membuat peneliti sadar bahwa biar bagaimanapun makalah ini membutuhkan makalah lanjutan yang lebih sempurna, minimal penambahan teori. Hal tersebut disebabkan karena pemerolehan bahasa seseorang untuk dapat menimbulkan sebuah nama diri dapat dipengaruhi melalui banyak cara. Misalkan, bahwasanya pemilihan kata melalui fonem seperti terjadi pada nama – nama Sunda, umpamanya Dadang Surandang. Hal lain terjadi pula pada nama diri etnik Jawa yang mempertimbangkan adanya nama kecil dan nama dewasa.
F. Daftar PustakaArief, Nurhaeni. 2008. Pilihan Nama-nama Terbaik Putra-putri Anda. Yogyakarta: Dianloka.
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Chaer, Abdul. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta
Dardjowidjojo, Soenjono. 2005. Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Subandi, dkk. 2005. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Purwokerto: Universitas Jenderal Soedirman.
Wasiyati, Kristina. 2000. Referensi, Makna, dan Denotasi. (makalah). Belum diterbitkan.
Wibowo, R.M. 2001. “Nama Diri Etnik Jawa”, Humaniora Volume XIII No. 1. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.