Like This Yo...

Rabu, 20 Mei 2009

Akankah Bahasa Ibu semakin punah?

Publikasi Harian Riau Pos, 23 Mei 2003
Oleh : Achmad Hidir, 



Asal-Mula Munculnya Bahasa.

Asal mula munculnya bahasa dalam kehidupan manusia, sulitlah ditebak kapan waktunya dan bilamana hal itu muncul ?. Sampai saat ini masih teka-teki. Namun para ahli antropologi memiliki keyakinan munculnya bahasa sebagai lambang bunyi yang memiliki arti adalah ketika nenek moyang manusia harus meninggalkan pohon-pohonan dalam hutan ke alam terbuka di savana padang rumput. Dalam lingkungan yang baru ini nenek moyang manusia menghadapi bahaya yang lebih banyak, yang menuntut daya penyesuaian yang lebih dari mereka demi kelangsungan hidupnya. 

Konon ketika itu, kawanan kera yang berdiri tegak (pithe-chantropus erectus) itu sudah mulai hidup di tanah dan berkelompok sehingga memunculkan pembagian kerja di antara mereka. Selanjutnya diyakini oleh para antropolog, munculnya bahasa itu seiring dengan mulai beralihnya fungsi rahang dan taring ke arah semakin berfungsinya tangan untuk bekerja, selain itu berfungsinya tangan untuk bekerja mempengaruhi kemampuan otak (cerebrum dan neocortex) yang semakin membesar yang mampu merekam berbagai memori.

Kemampuan merekam memori ini, karena kera yang berdiri tegak itu memiliki keuntungan anatomis yang tidak terdapat pada kera-kera lainnya. Keuntungan yang paling berhubungan langsung dengan kemampuan berbahasa di kemudian hari adalah bentuk rahang yang memungkinkan gerak bibir lebih leluasa, sehingga dengan mulut mereka dapat menimbulkan bunyi yang banyak variasinya. Demikian juga dengan kemampuannya untuk berdiri tegak dengan kaki, telah memungkinkan mereka untuk dapat melihat lebih jauh sehingga mereka dapat menangkap gejala-gejala bahaya dari suatu jarak tertentu. 

Selanjutnya kata-kata lisan pertama barangkali bertalian erat dengan suara-suara yang ke luar dari mulut mereka sebagai respon bila mereka melihat bahaya. Melalui peniruan yang mungkin mula-mula tak sengaja, tapi kemudian terus dikembangkan maka kemudian suara-suara itu mulai mengandung arti dan dipakai sebagai isyarat umum. 

Proses perkembangan dalam menjadikan suara tertentu sebagai simbol untuk benda-benda tertentu berjalan lambat. Namun sampai taraf tertentu kemudian perkembangannya mengalami percepatan yang luar biasa. Sama halnya dengan yang dialami oleh seorang anak kecil ketika belajar bicara, ketika ia menyadari bahwa segala sesuatunya itu mempunyai nama dan dapat diberi nama, maka kemampuan bahasanya akan meningkat dengan cepat.

Kemampuan berbahasa ini selanjutnya amat memperbesar kemampuan kualitatif otak manusia purba. Secara genetis perkembangan ini tercermin dalam pertumbuhan neo-cortex (otak depan), yang menyebabkan ukuran otak menjadi lebih besar pada manusia-manusia yang lebih maju kemudian Kemampuan berbahasa ini mencerminkan pula kemajuan akan kemampuan manusia untuk mengembangkan budayanya, seni, teknologi, dan lebih daripada itu adalah sosialisasi.

Dari sini kemudian kemajuan tehnologi dan kebudayaan semakin berkembang pesat sehingga meninggalkan taraf kema­juan mahluk lain yang ada. Sebagai dampak adanya satu kemampuan manusia akibat perkembangan bahasa yang ia miliki. 





2. Variasi Bahasa dan Bahasa Ibu

Proses persebaran bahasa sangat dipengaruhi dengan proses persebaran ras. Hal ini karena persebaran ras telah menyebabkan perbedaan bahasa karena adanya proses disvergensi yang dipengaruhi oleh alam lingkungan dan isolasi geografis.

Bahwa kemudian manusia menggunakan bunyi-bunyi tertentu dan disusun dengan cara tertentu pula adalah secara kebetulan saja dan semuanya bersifat suka-suka (arbitrer). Dengan demikian maka terjadinyalah perbedaan antara bahasa satu dengan bahasa lainnya. Sebagai misal, bulan adalah bulan dan dari dulu bulan itu hanya ada satu di angkasa, tetapi kenapa kemudian manusia memberikan nama yang berbeda-beda untuk benda yang bernama “ bulan “. Sebagai contoh; orang Indonesia menyebutnya Bulan, orang Jawa menyebutnya Wulan, Orang Jepang menyebutnya Tsuki, orang Perancis La lune, orang Inggris The Moon, Orang Jerman Monat dan lain sebagainya. Pada hal obyeknya sama, yaitu sebuah benda planet. 

Proses arbitrer dan disvergensi inilah yang lambat laun memberikan andil variasi bahasa dan pembentukan bahasa daerah (suku atau bangsa) di kemudian hari.

Indonesia tercatat sebagai negara kedua yang paling banyak memiliki bahasa ibu setelah Papua New Guinea. Secara total jumlah bahasa ibu di Indonesia ada 706 sedangkan untuk Papua New Guinea sejumlah 867 bahasa ibu. Dari 706 rumpun bahasa ibu yang ada di Indonesia separuhnya berada di Papua (Kompas, 13 Februari 2003). Hal ini wajar sebagaimana diungkap oleh A.F. Tucker (1987) bahwa di pedalaman Irian (Papua) memang banyak sekali variasi subsukunya. Sebagai contoh; untuk orang Sentani saja sukunya terbagi dalam tiga dialek bahasa, yaitu; bahasa Sentani barat, timur dan tengah. Orang Sentani Timur sering juga dikenal dengan orang Hedam. Demikian juga untuk orang Dani, terbagi dalam berbagai subsuku, ada Dani Baliem, Yamo, Toli, dan Sipak yang kesemuanya itu ternyata memiliki variasi bahasa. 

3. Kearah Kepunahan Bahasa Ibu.

Diyakini bahwa untuk bahasa-bahasa ibu beberapa tahun ke depan akan semakin punah dan hilang. Menurut data UNESCO setiap tahun ada sepuluh bahasa daerah yang punah. Pada akhir abad 21 ini diperkirakan laju kepunahan akan lebih cepat lagi. Menurut laporan Kompas 13 Februari 2003, diantara 6.000 bahasa yang ada di dunia, hanya akan ada 600-3000 bahasa saja lagi yang ada menjelang akhir abad 21 ini. Dari 6000 bahasa daerah itu, sekitar separuhnya adalah bahasa yang dengan jumlah penuturnya tidak sampai 10.000 orang. Pada hal salah satu syarat lestarinya bahasa adalah jika jumlah penuturnya mencapai 100.000 orang.

Bukti-bukti akan adanya kepunahan bahasa ibu di Indonesia adalah dari jumlah 109 bahasa daerah yang ada, ternyata jumlah penuturnya sudah kurang dari 100.000 orang, misalnya bahasa Tondano (Sulawesi), Ogan (Sumsel), dan Buru (Maluku). Bahkan menurut laporan Kompas November 2002 lalu, melaporkan bahwa untuk jumlah penutur bahasa sunda di Bandung (bukan di Jawa Baratnya) jumlah penutur bahasa sunda menurun jumlahnya. Karena imbas urbanisasi dan banyaknya migrasi masuk multi etnik dan kontak dengan budaya lain. Selain juga ada kecenderungan baru di mana untuk kelas menengah baru sudah enggan menggunakan bahasa daerah yang terkesan kuno.

Bagaimana dengan di Riau ?. Menurut UU Hamidy (1991) jumlah masyarakat terasing di Riau cukup banyak variasinya. Dan masih menurutnya bahwa untuk kasus masyarakat terasing di Indonesia cukup sulit untuk ditaksir, namun jika diperkirakan tahun 1987 ditaksir 1,2 juta jiwa dan setiap keluarga ditaksir ada 4 jiwa, maka diperkirakan jumlah mereka 240.000 KK. Kemudian lagi bila diperkirakan pertumbuhannya 1 % saja pertahun maka dalam tahun 1991 ditaksir akan berjumlah 1,5 juta jiwa (300.000 KK). Lalu bagaimana untuk keadaan tahun 2003 ?. Sejauh ini memang penulis belum memperoleh data untuk itu (mungkin saja datanya sudah ada). 

Namun bila mengacu pada teori antropologi, di mana dinyatakan bahwa dalam masyarakat yang cenderung nomad (selain juga karena kemiskinannya) seringkali pertumbuhannya menjadi terhambat dan kadangkala terbawa oleh genetical drift yang kurang menguntungkan sehingga lambat laun populasinya semakin mengecil untuk kemudian akhirnya punah. Contoh untuk kasus itu sudah ada, sebut saja misalnya; orang Ainu di Jepang, Aborigin di Australia atau orang Indian di Amerika yang hampir mendekati kepunahan.

Oleh sebab itu di Indonesia, momentum peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional yang dicanangkan tanggal 21 Februari setiap tahunnya, untuk pertama kalinya turut diperingati berupa pertemuan nasional tanggal 19 Februari 2003 di Jakarta. Momen ini dianggap penting karena para ahli bahasa tampaknya sepakat bahwa bahasa daerah harus dilestarikan secara seimbang dengan bahasa nasional. Karena keberadaan bahasa daerah merupakan ciri jati diri bangsa dan suku yang ada di Indonesia. Selain muatan lokal dalam mata pelajaran yang perlu dikembangkan juga, perlu peran serta keluarga dalam mensosialisasikan pengenalan bahasa ibu dalam usia dini terhadap anak-anaknya.

Diyakini pembekalan dua bahasa (bilingual) atau lebih (multilingual) terhadap anak sejak dini merupakan langkah strategis untuk membentuk pribadi yang toleran dan santun, selain menyelamatkan bahasa daerah dari ancaman kepunahan.

ANALISIS PEMBENTUKAN KATA DALAM RUJUKAN NAMA DIRI MAHASISWA SASTRA INDONESIA UNSOED ANGKATAN 2005 Bayu Murdiyanto G1B005021

A. Pengantar 

Nama merupakan cerminan diri. Begitulah yang biasa dikatakan orang tua ketika memberikan nama kepada anaknya. Diharapkan dengan nama yang memiliki arti baik dapat mencerminkan sifat sang anak kelak. Tapi pada dasarnya nama diri seseorang hanya merupakan identitas saja, tidak seperti yang dikatakan di atas. Belum tentu seseorang akan memiliki sifat yang baik ketika mendapat nama yang baik saat ia dilahirkan dan diberikan nama oleh orang tuanya. 

Dewasa ini bahan bacaan tentang daftar nama diri cukup banyak tersedia. Namun demikian masih sedikit dilakukan upaya ke arah deskripsi nama diri sebagai bagian dari struktur gramatikal bahasa (Wibowo, 2001:45). 
Dengan demikian penulis ingin mencoba untuk mengkaji lebih jauh lagi mengenai analisis referen nama diri ini dalam pembentukan kata dengan alasan mencoba mengungkap bahwa nama diri dapat muncul dari peristiwa kebahasaan juga. 
Penelitian ini menggunakan konsep kajian cabang ilmu linguistik yaitu, Morfologi dengan mengambil teori pembentukan kata. Sebuah teori yang membahas mengenai pembentukan sebuah kata dengan menggunakan tiga teori, yakni (1) afiksasi atau pengimbuhan; (2) reduplikasi atau pengulangan; (3) komposisi atau pemajemukan.

B. Penelitian sebelumnya

Penelitian sebelumnya yang membahas nama diri memang banyak, namun penulis mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Ridha Mashudi Wibowo dengan judul Nama Diri Etnik Jawa.

Dalam kajiannya Ridha mengkaji pembentukan nama etnik Jawa dengan bertolak ukur kajian gramatikal dan semantik nama diri. Berikut abstrak milik Ridha Mashudi Wibowo :
Dewasa ini bahan bacaan tentang daftar nama diri cukup banyak tersedia . Namun demikian masih sedikit dilakukan upaya ke arah deskripsi nama diri sebagai bagian dari struktur gramatikal bahasa. Beberapa masalah linguistik umum tertentu, seperti sifat semantis nama diri dan kedudukan nama diri terhadap nomina biasa, telah banyak menarik perhatian para ahli linguistik dan juga filsafat (Uhlenbeck, 1982:370). Akan tetapi, dasar empiris bagi pembahasan teoretis tentang masalah ini masih agak sempit dan kurang mantap. Bagi kebanyakan linguis kajian nama diri merupakan bidang penelitian yang tipis dan kurang memberikan harapan sehingga dengan perasaan lega diserahkan kepada ilmu onomastika
Dalam pada itu, yang dimaksud dengan nama diri ialah kata yang dipakai untuk menyebut diri seseorang (Ali dalam Riyadi, 1999:80; conf. Kridalaksana, 1993: 144). Dengan kata lain, nama dapat diartikan sebagai kata yang berfungsi sebagai sebutan untuk menunjukkan orang atau sebagai penanda identitas seseorang. Dipandang dari sudut ilmu bahasa, nama diri merupakan satuan lingual yang dapat disebut sebagai tanda. Tanda merupakan kombinasi dari konsep (petanda) dan bentuk (yang tertulis atau diucapkan) atau penanda (Saussure, 1988:147). Tanda-tanda itu – yang antara lain berupa tanda konvensional yang disebut simbol – memegang peran penting dalam komunikasi (Sudjiman dan Zoest, 1996b:9). Dengan demikian, nama diri selain berfungsi sebagai penanda identitas, juga dapat merupakan simbol, misalnya Teguh ‘teguh/kokoh’ selain merupakan penanda identitas seorang laki-laki, juga merupakan simbol kekuatan. Di samping itu, Palupi ‘teladan’ selain merupakan penanda identitas seorang wanita, juga merupakan simbol keteladanan. Dalam hal ini, mengikuti Uhlenbeck (1982:373-382), nama diri yang semata-mata hanya berfungsi sebagai penanda identitas identik dengan nama diri yang tidak bermotivasi sedangkan nama diri yang berfungsi sebagai simbol identik dengan nama diri yang bermotivasi. Lain daripada itu, Budiwati (2000) menyinggung ihwal kaitan antara nama diri dan acuan/referennya. Secara semantis nama diri dapat berkaitan dengan variable reference (referensi variatif) maupun constant reference (referensi tetap). Artinya, dalam lingkup kalimat semakin pendek nama diri seseorang ditampilkan semakin ia memiliki kecenderungan mempunyai referensi yang bersifat variatif, sedangkan semakin panjang nama seseorang ditampilkan dalam kalimat semakin ia memiliki kecenderungan mempunyai referensi yang bersifat tetap . Berkaitan dengan hal itu, Ryle (dalam Wasiyati, 2000:8) menyatakan bahwa nama memiliki referen tetapi tidak memiliki makna. Arti simbolik nama dan kata lain dibangun oleh konvensi yang khusus untuk budaya tertentu. Ditegaskannya pula bahwa kamus tidak mengungkapkan arti nama-nama dengan alasan sederhana, yakni karena nama tak berarti apa-apa.

C. Analisis Nama Arbitrer

Pada kasus ini akan ada pengelompokan nama dengan pembentukan arbiter. Nama seseorang bisa dikelompokan dalam bentuk arbiter apabila struktur pemaknaannya kurang jelas atau dengan faktor lain, karena memang banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Dalam bentuk penamaan jawa akan banyak sekali kita temukan penamaan yang digolongkan dalam bentuk arbitrer. Misalkan, nama seorang peranakan jawa dapat diindikasikan arbitrer apabila diakhiri dengan akhiran –em atau –en dengan memenuhi formulasi vokal a-i-e, misalnya Barikem, Saliyem, Daminten, Jaminten (Wibowo, 2001:49). Dalam bentuk akhiran -an dan –in dapat kita temui, misalnya tajiman, sajidin, baridin, paiman, wakiman dengan formulasi a-i-a. Nama-nama ini secara kuantitatif banyak kita temui, namun nama berfomulasi e-i-i akan sangat jarang kita jumpai, semisal, Jemidin, Sekimin.

Dalam penamaan sunda juga terjadi kearbitreran. Unsur penamaan yang digunakan adalah padanan bunyi yang memiliki kemiripan atau engabument, misalnya Dadang, Maman, Dede, Deden, Jaja, Jajang. Pembentukan yang lebih panjang dengan melakukan pengulangan unsur satuan kata (dalam nama bermorfem dua atau lebih) berdasarkan unsur bunyi juga, misalnya Dadang Endang Surandang, Jaja Suraja, Nana Sunarya. Nama-nama tersebut rata-rata memiliki formulasi a-a-a atau berakhiran fonem mati.

D. Analisis Nama Nonarbitrer

Bentuk nama-nama ini dikelompokan ke dalam bentuk nonarbitrer dimungkinkan karena berasal dari suatu leksikon tertentu, baik dalam satu silabel atau kata maupun lebih. Bentuk yang mungkin bisa dianalisis adalah apabila memiliki runtutan, misalkan Ardiman atau Ardinem. Keduanya berdasarkan dari kata asal yang sama yaitu ardi yang berarti gunung hanya saja memiliki pemarkah yang berbeda, -man untuk laki dan –nem untuk wanita.atau dalam kasus lain terjadi dalam leksikon yang sama namun merubah fonem terkhir sebagai penanda markah tertentu tanpa memberikan tambahan imbuhan, misalkan Yatno atau Yatni. Yatno berasal dari kata Yatna (jawa Kuno) yang berarti waspada dengan markah /o/ untuk laki-laki dan /i/ untuk wanita Dalam nama nonarbitrer kita juga dapat menemukan runtutan bunyi, misalkan Tri Januri Ariri, Sujiwo Tejo, Harjo Sugianto. Ketiganya memiliki runtutan bunyi pada ujung morfemnya. Tri yang berarti tiga, Januri (diambil dari bahasa sansekreta) yang berarti bulan Januari, Ariri yang berarti hari ke tiga; nama ini memiliki formulasi i-i-i. Sujiwo yang berarti satu jiwa, tejo berasal dari teja (bahasa Jawa Kawi) yang berarti cahaya; nama ini memiliki formulasi o-o. Harjo yang berasal dari kata harja (bahasa Jawa Kawi) yang berarti selamat, Sugianto yang berasal dari kata sugih atau kaya dan anta atau ananta yang berarti tanpa batas (bahasa Jawa Kawi); nama ini memiliki formulasi o-o.


E. Penutup

Secara umum Chaer, (1995:43-52) menyatakan bahwa penamaan merupakan proses perlambangan suatu konsep untuk mengacu pada suatu referen yang berada di luar bahasa. Nama diri pada hakikatnya tidak memiliki makna ketika bentukan kata yang terjadi sudah menjadi hasil. Dengan kata lain yang memiliki makna adalah referen atau rujukannya bukan nama diri itu sendiri. Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Ryle (dalam Wasiyati, 2000:8) yang menyatakan bahwa nama memiliki referen tetapi tidak memiliki makna.

Pembentukan kata pada sebuah kelas bahasa pada akhirnya memang dapat menentukan makna. Dapat dikatakan pembentukan kata pada sebuah nama dapat membedakan makna nama seseorang. Namun penelitian ini pada akhirnya hanya mengkaji pembentukan kata dalam rujukan nama diri seseorang.  
Pembahasan makalah ini akan menggunakan dua tahapan komponen, pertama, dilihat melalui pemenggalan perkata dan kedua melalui susunan per morfem atau susunan gramatikalnya untuk menemukan pembentukan kata dalam nama tersebut. makalah kajian nama sendiri merupakan kajian yang sudah sering dibahas dalam penelitian - penelitian lain sehingga akan banyak sekali jenis kajiannya dipandang dari berbagai sisi.

Cukup banyaknya penelitian mengenai makna ini membuat peneliti sadar bahwa biar bagaimanapun makalah ini membutuhkan makalah lanjutan yang lebih sempurna, minimal penambahan teori. Hal tersebut disebabkan karena pemerolehan bahasa seseorang untuk dapat menimbulkan sebuah nama diri dapat dipengaruhi melalui banyak cara. Misalkan, bahwasanya pemilihan kata melalui fonem seperti terjadi pada nama – nama Sunda, umpamanya Dadang Surandang. Hal lain terjadi pula pada nama diri etnik Jawa yang mempertimbangkan adanya nama kecil dan nama dewasa.

F. Daftar Pustaka

Arief, Nurhaeni. 2008. Pilihan Nama-nama Terbaik Putra-putri Anda. Yogyakarta: Dianloka.

Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta

Chaer, Abdul. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta

Dardjowidjojo, Soenjono. 2005. Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Subandi, dkk. 2005. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Purwokerto: Universitas Jenderal Soedirman.

Wasiyati, Kristina. 2000. Referensi, Makna, dan Denotasi. (makalah). Belum diterbitkan. 

Wibowo, R.M. 2001. “Nama Diri Etnik Jawa”, Humaniora Volume XIII No. 1. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. 

Minggu, 09 November 2008

KATA YANG SUDAH TIDAK DIGUNAKAN DALAM KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA TERBITAN BALAI PUSTAKA (HURUF M DAN N)

KATA YANG SUDAH TIDAK DIGUNAKAN

DALAM KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA TERBITAN BALAI PUSTAKA

(HURUF M DAN N)


M


Mabul- mabul : Keadaan berantakan (seperti Kapuk, rambut)

Ma cat : Macet

Macis : Korek api

Madani : Berhubungan dengan hak-hak sipil

Madar : Tidak berperasaan

Madar : Menara tempat orang berjaga, dinding atau tempat di atas menara, diberi lubang-lubang untuk mengintai

Madau : Alat bunyi-bunyian

Madik : Utusan pihak laki-laki untuk melamar gadis

Mado : Sistem klan di Nias, bersifat patrineal

Madras : Kain sutra atau kain katun yang ulet

Maduraka : Kain sutra berbenang warna emas

Maesan : Nisan

Mag : Lambung

Magalah : Pasukan pengawal istana yang bersanjata tombak

Magandi : Pasukan pengawal istana yang bersanjata pemukul

Magel : Setengah masak (belum matang benar)

Magenta : Merah keungu-unguan

Magersari : Orang yang rumahnya menumpang di pekarangan orang lain

Magi : Sesuatu atau cara tertentu yang diyakini dapat menimbulkan kekuatan gaib

Magistrat : Pemerintahan negeri

Maglub : Sesuatu yang dikalahkan

Magobi : Mahoni

Magrur : Sombong, Angkuh

Magun : Atap pelindung, atau rumah-rumahan pada perahu

Mahapatih : Patih yang berkuasa

Maharana : Perang besar

Maharani : Raja perempuan

Mahardika : Berilmu, cerdik, pandai, bijak

Mahatma : Jiwa besar

Mahatur : Sebutan untuk salah satu istri raja

Mahla : Inti, sumber

Mahimahi : Ikan Laut

Mahmud : Yang berbunyi

Mahsul : Hasil

Maldo : Mencela karena tidak percaya

Mairat : Hilang, pergi

Majakaya : Tidak tersambung

Majal : Tumpul, tidak tajam

Majedub : Manusia pilihan tuhan yang merasa bahwa tuhan seakan berada di sisinya

Majenun : Kemasukan jin

Majer : Majin, tidak beranak, mandul

Majong : Kain untuk menggosok mesin

Majuh : Lahap, rakus

Majun : Potongan sisa bahan

Majung : Serat dsb untuk menyumbat sela-sela papan

Majusi : Pengikut agama penyembah api

Mak : Ibu

Maksi : Berukuran sampai mata kaki

Maksum : Terbagi, terpisah

Maktab : Tempat belajar

Maktub : Tertulis, tercantum

Makul : Menurut akal

Makurung : Hukuman berupa tahanan rumah selama 15 hari karena tidak ikut serta dalam kerja bakti

Makzul : Berhenti memegang jabatan, turun tahta

Mala : Bencana, celaka, sengsara

Malabau : Bau tidak sedap

Malagandang : Melarikan gadis dengan paksa untuk dikawini

Malai : Untaian (bunag, butir padi)

Malaise : Keadaan lesu dan serta sulit (bidang ekonomi)

Malakat : Kerajaan

Malakut : Kerajaan yang besar, kekuasaan

Malan : merasa kurang senang

Malap : Suram

Malar : Terus-menerus

Male : Sebutan bagi wanita yang mandul

Malih ; berubah, bertukar

Malka : Tempat bertemu

Malum : terkutuk, kena laknat

Malung : Mug besar

Mamai : Seperti hilang ingatan

Mambang : Warna kuning kemerah – merahan di sebelah barat ketika matahari mulai terbenam

Mambek : Tidak mengalir

Mambu : Berbau, basi

Mampung : Ringan dan berongga-rongga

Manai : Putih pucat

Manakala : Kata penghubung untuk menandai syarat

Manakan : bagaimana akan boleh

Manau : Rotan besar

Manda : Mau atau tahan

Madah : Daun atau kulit yang ditaruh di lesung

Mandai : Melamar gadis yang dilakukan sendiri oleh pemuda

Mandam : Berasa pusing karena mabuk

Mandeh : Ibu

Mandil : sapu tangan

Mandril : Kera besar

Mandung : Ayam jantan

Mangap : Membuka mulut, menganga

Manggah : Sesak napas

Manggung : Berkicau

Mangkak : Besar hati, bangga

Mangkar : Keras, tidak bisa menjadi lunak

Mangkus : Manjur, berhasil guna

Manjeri : Mengangkat ahli waris dari keturunan laki-laki

Manjung : Suluh atau obor besar

Manol : Orang yang bekerja pada orang lain untuk mengangkat barang

Mantik : Cara berfikir yang hanyan berdasarkan pikiran belaka

Manut : Suka, menurut

Mara : Bencana, bahaya

Marbut : Penjaga dan pengurus masjd

Merem : Puas hati, senag

Manu : Hantu yang suka mengganggu

Masit : Utuh dan padat

Maskanat : Kemiskinan

Masygul : Bersusah hati karena suatu sebab

Mathum : Sudah paham

Matlak : Daerah tempat terbitnya matahari

Matsadah :Kebiasaan, kejahatan, perbuatan jahat

Maujud : Benar-benar ada, hanya

Maula : Tuan

Mau-mau : Pisang

Mayeng : terus-menerus

Mbeling : Nakal

Medit : Kikir, pelit

Melit : Selalu ingin tahu segala-galanya

Memalangi : menghalangi jalan

Memble : Terkelepai kebawah (bibir)

Memedi : Makhluk halus

Menak : Orang termormat

Mengi : Penyakit sesak napas

Mengkis : berteriak

Mentas : keluar dari air

Menteleng : Membuka mata selebar-lebarnya

Mentis : Bertunas

Merajak : Tumbuh subur

Merawan : Pohon tinggi besar

Merduk : Barang atau harta benda yang tidak berharga

Mereng : Miring

Merih : Tenggorokan, pembuluh napas

Milad : Waktu kelahiran

Mileu : Lingkungan

Misai : Bulu rambut diatas bibir atas

Moblong : Terbuka lebar

Moler : Pelacur

Moncor : Mengalir keluar

Monyos : Mendapat malu

Mores : Adat sopan santun

Mosi : Keputusan Sapat

Muas : Menjadi encer

Mubut : Mudah patah

Mudat : Perpanjang



N


Nabu : Biji Buah (durian, nangka, cempedak) dan daging buah.

Naf : Pusat roda yang berbentuk silinder, berlubang, dilalui poros, dan dipasangi jari-jari roda.

Nabak : Bangkit (perasaan, selera, dsb)

Nahi : Isi yang dilarang

Nyak : Bertambah besar

Naim : Nyaman, nikmat, senang

Najam : Bintang

Najasah : Kecemaran

Najasat : Najasah

Nail : Satuan ukuran isi (beras dsb) 16 gantang atau 1/50 koyan

Nalih : Nail

Namatium : Komunitas selokan

Nampal : Napal

Nanang : Memikirkan sesuatu dalam-dalam; merenung.

Nanap : Terbuka lebar-lebar (mata); melihat dengan mata tidak berkedip; terbeliak

Nang : Nan; yang

Napal : Tanah liat merah yang dapat dimakan sebagai obat; ampo.

Nara : Orang

Narapati : Raja

Narapraja : Raja

Narawastu : Narwastu

Narestu : Narwastu

Narpati : Narapati

Nasakh : Menghapuskan; menghentikan

Nasut : Raja; baginda; sang

Natura : Barang yang sebenarnya bukan dibentuk uang (pembayaran)

Nau : Enau

Nawa : Sembilan

Nawala : Lembaran cetakan berupa pamflet atau surat kabaryang diterbitkan pada waktu-waktu tertentu yang berisi tentang perkembangan perusahaan

Nawalapatra : Karangan, tulisan, perbuatan

Nawalapradata : Nama buku tentang hukum keraton (kerajaan

Nawastu : Narwastu

Nayaga : Niyaga

Nayaka : Menteri

Nayam : Tenggala; mata bajak

Nayap : Mencuri pada siang hari

Nazim : Pengarang, penyair

Nazir : Penyampai berita duka

Neala : Cuping pada sayap belakang serangga

Neces : Necis

Negosi : Perdagangan; perniagaan

Nenar : Nanar

Nenda : Nenenda

Naraksara : Melanggar peraturan

Nestor : Orang tua yang bijak

Ngalau : Gua

Ngaral : Lembah (jurang) yang dalam dan luas diantara dua tebing yang curam

Ngeang : Melihat hantu

Ni : Kata sapaan untuk wanita yang belum kawin; nona

Nidera : Tidur (nyenyak); kantuk

Nik : Sapaan untuk gadis kecil

Nilam : Ketilang

Ninik : Nenek

Nisbah : Perhubungan keluarga; nama yang menyatakan seketurunan

Nisbi : Hanya terlihat (pasti; terukur) kalau dibandingkan dengan yang lain; dapat begini atau begitu; bergantung kepada orang yang memandang; tidak mutla; relatif

Niskala : Tidak berwujud; tidak berbeda; mujarad; abstra

Nomad : Kelompok orang yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, berkelana dari satu tempat ke tempat lain, biasanya pindah pada musim tertentu ke tempat tertentu sesuai dengan keperluan kelompok itu.

Non : Biarawati

Non : Lihat kaum

Nona : Makan sirih; tanaman perdu kecil dan pendek, merambat, bunganya berkelopak besar, putih berubah menjadi merah keunguan apabila menjadi buah, berguna sebagai tanaman hias

Nonhis : Tidak bersifat

Nonoh : Senonoh

Num : Ikan yang besar

Nutfah : Mani (benih manusia)

Nyah : Enyah

Nyalar : Selalu

Nyamur : Embun

Nyang : Yang

Nyanyu : Selalu berkata yang bukan-bukan, merepek, menyanyah

Nyarik : Nyaring

Nyinyir : Mengulang-ulang printah atau permintaan

Nyiru : Alat rumah tangga, berbentuk bundar, dibuat dari bamboo yang dianyam, gunanya untuk menempi beras dsb

Nyonyol : Suka berbicara; banyak bicara

Nyolo : Perasapan, pendupaan

Nyonyot : Nyunyut

Nyungsung : Mudah kerasukan (roh dsb) atau tidak sadarkan diri

Nyunyut : Menyunyut; menarik panjang-panjang; menjujut; menghela

Nyunyut : Bergerak turun naik (ubun-ubun bayi)

Nyunyut : Mengulum dan menghisap (permen, tetek, dsb)